Bayangkan kamu seorang engineer yang sedang memegang sebuah sistem besar—bisa itu mesin, proyek, atau bahkan hidupmu sendiri. Insting pertamamu adalah: semua harus bisa dimodelkan. Ada input, ada output, ada variabel yang bisa diatur. Kalau hasilnya belum optimal, berarti ada yang perlu diperbaiki. Tambah efisiensi. Kurangi noise. Perbaiki bug. Dunia terasa seperti sesuatu yang, pada akhirnya, bisa ditaklukkan lewat logika dan iterasi.
Di dalam cara pandang ini, hidup seperti proyek optimisasi tanpa akhir. Kamu selalu bertanya: “apa yang bisa saya lakukan agar hasilnya lebih baik?” Dan itu memberi rasa kendali. Selama ada sesuatu yang bisa diubah, berarti ada harapan untuk perbaikan.
Tapi di sisi lain, ada cara pandang yang berbeda, seperti yang dibawa John Gray dalam *Feline Philosophy*. Ia seolah berdiri di luar ruang kontrol itu dan berkata: mungkin kamu terlalu percaya bahwa sistem ini bisa dikendalikan sepenuhnya. Mungkin tidak semua variabel bisa diukur. Mungkin ada banyak hal dalam hidup yang tidak pernah benar-benar bisa “dioptimalkan”.
Dalam pandangan ini, hidup bukan mesin yang bisa disetel sampai sempurna, tapi ekosistem yang kompleks—kadang stabil, kadang acak, sering kali tidak peduli dengan rencana kita. Seperti kucing yang tidak sedang mengejar efisiensi atau tujuan besar, tapi hanya hidup dalam apa yang sedang terjadi. Tidak lebih, tidak kurang.
Di titik ini, ketegangan mulai terasa. Sebagai engineer, kamu ingin memperbaiki. Sebagai “feline thinker”, kamu diajak untuk berhenti menganggap semuanya harus diperbaiki. Yang satu mendorong kontrol, yang lain meredam ilusi kontrol.
Kalau kamu terlalu tenggelam dalam mindset optimisasi, hidup bisa berubah menjadi rangkaian target yang tidak pernah selesai. Selalu ada yang kurang, selalu ada yang bisa ditingkatkan. Bahkan saat sudah baik, masih terasa belum cukup optimal.
Sebaliknya, jika kamu terlalu larut dalam sikap menerima tanpa batas, kamu bisa kehilangan dorongan untuk memperbaiki hal-hal yang sebenarnya bisa diperbaiki. Dunia jadi terlalu “apa adanya”, tanpa arah untuk berkembang.
Di antara dua cara pandang itu, sebenarnya ada ruang yang lebih realistis. Ada hal-hal dalam hidup yang memang bisa diperlakukan seperti sistem engineering: skill, pekerjaan, kesehatan, investasi. Di sana, optimisasi masuk akal. Tapi ada juga hal-hal yang lebih mirip cuaca atau ekosistem: orang lain, keberuntungan, waktu, perubahan besar hidup. Di sana, kontrol penuh hanyalah ilusi halus yang sering membuat kita lelah sendiri.
Dan mungkin kebijaksanaan bukan memilih salah satu, tapi tahu kapan harus menjadi engineer yang memperbaiki sistem, dan kapan harus menjadi kucing yang duduk diam, membiarkan hidup lewat tanpa harus selalu mengubahnya.
