Ada dua musim dalam kehidupan manusia, dan masing-masing punya caranya sendiri untuk memberikan kebahagiaan.
Musim pertama adalah musim muda.
Di musim ini, kebahagiaan datang seperti air yang mengalir deras — mudah, melimpah, dan terasa di mana-mana. Mata masih tajam menikmati keindahan. Lidah masih peka merasakan kelezatan. Kaki masih kuat melangkah jauh. Telinga masih jernih menangkap harmoni.
Gunung bisa didaki. Lautan bisa diseberangi. Meja makan yang penuh hidangan adalah surga kecil yang nyata. Setiap perjalanan adalah petualangan. Setiap pertemuan adalah energi baru.
Kebahagiaan di musim ini seperti buah yang bisa langsung dipetik — segar, manis, dan terasa nyata di ujung lidah.
Musim kedua adalah musim tua.
Perlahan, tanpa bisa dilawan, musim berganti. Mata mulai rabun. Lutut mulai bicara setiap kali diajak mendaki. Lidah tidak lagi sepeka dulu. Telinga mulai meminta pengulangan.
Dan di sinilah ujian sesungguhnya dimulai.
Mereka yang selama hidupnya hanya menggantungkan kebahagiaan pada kekuatan fisik dan ketajaman indra — akan merasakan musim kedua ini sebagai kehilangan yang menyakitkan. Seolah kebahagiaan telah pergi, dan yang tersisa hanya tubuh yang semakin terbatas.
Tapi mereka yang bijak — mereka yang sudah mulai menanam sejak musim pertama — akan menemukan sesuatu yang luar biasa di musim kedua ini.
Bahwa ada kebahagiaan yang tidak bisa tua.
Kebahagiaan yang tidak menua.
Kebahagiaan batiniah tidak butuh mata yang tajam untuk melihat keindahan — karena ia melihat dengan hati. Tidak butuh kaki yang kuat untuk bepergian — karena perjalanannya ke dalam, bukan ke luar. Tidak butuh lidah yang peka untuk merasakan kelezatan — karena yang dinikmatinya adalah kedamaian, rasa syukur, dan ketenangan jiwa yang tidak tertandingi oleh makanan seenak apapun.
Seorang tua yang batinnya kaya akan duduk dalam diamnya dan merasakan kebahagiaan yang bahkan tidak pernah ia rasakan di puncak mudanya.
Karena kebahagiaan batiniah justru semakin matang seiring waktu — seperti kayu timoho yang semakin tua semakin dalam peletnya, semakin tua semakin berharga.
Pesan untuk kita semua.
Nikmatilah musim mudamu sepenuhnya — itu adalah anugerah yang nyata. Makan yang enak, pergi yang jauh, lihat yang indah, rasakan yang menyenangkan. Tidak ada yang salah dengan itu.
Tapi sambil menikmati musim pertama, mulailah menanam untuk musim kedua. Karena musim tua pasti datang — tanpa kecuali, tanpa negosiasi.
Dan ketika ia datang, hanya ada dua pilihan:
Menjadi tua dengan tangan kosong — merindukan kebahagiaan yang sudah pergi.
Atau menjadi tua dengan batin yang kaya — menikmati kebahagiaan yang tidak pernah bisa diambil oleh waktu.
Tubuh memang akan menua. Tapi jiwa — jiwa bisa terus bertumbuh, selama kita mau merawatnya. 🌿


Tidak ada komentar:
Posting Komentar