Kita bukan tubuh kita, wahai jiwa yang mengembara,
Bukan debu yang melekat, bukan luka yang merana.
Kita adalah hembusan angin yang tak terlihat,
Bisikan keabadian saat hidup ini dimulai dan berangkat.
Tubuh ini hanya jubah, dikenakan dan dilepas,
Ilusi yang singgah, di jalan ini kita bernafas.
Jangan tertipu dengan apa yang mata lihat,
Karena kau adalah samudra, bebas dan lepas.
Lihatlah di balik tatapan cermin yang hambar,
Ada cahaya dalam yang tak pernah pudar.
Kau bukanlah rasa sakit, bukan pula usia yang mengikat,
Tapi roh yang tak terikat waktu, lembut dan penuh rahmat.
Wahai pengembara, kau adalah cinta yang menggerakkan alam semesta,
Ketenteraman yang sunyi, meredakan segala rasa.
Bukan nyeri tubuh, bukan wujud yang fana,
Tapi langit tak berbatas, di mana jiwa bebas merana.
Kau adalah hati yang berdetak seirama dengan bintang,
Nyanyian alam semesta, tanpa batas, tanpa rintang.
Kau adalah rahasia yang dijaga alam raya,
Penyair terjaga saat dunia masih terlelap maya.
Jadi jangan ratapi garis-garis di wajahmu,
Mereka hanyalah peta dari pelukan jiwamu.
Lepaskan beban, cerita-cerita dari kulit yang menua,
Dan temukan kebenaran yang tersembunyi di dalam sana.
Sebab kau bukanlah bejana ini, rapuh dan kecil,
Tapi esensi cinta, segalanya dalam segalanya, tak pernah ingkar janji.
Kau adalah cahaya, bisikan, dan keluhan lembut,
Nafas suci yang tak akan pernah surut.

